Di Balik Kepak Sayap Sang Kutilang (Bunda Lisa Oleh Jombang Santani Khairen REVIEW)

Image Bunda Lisa Oleh Jombang Santani Khairen 

Gramedia Pustaka Utama, Februari 2014

282 halaman

Samudra & Angkasa yang Bernyanyi Memeluk Mimpi


Mungkin kita sering mendengar pepatah yang berkata, “di balik kesuksesan seorang pria, ada wanita hebat di sampingnya”. Lewat karya nya yang kedua, Jombang Santani Khairen mengisahkan seorang wanita hebat dibalik kesuksesan suaminya, seorang profesor ternama. Lebih dari sekedar hebat, Bunda Lisa layak mendapat gelar Guru Besar dalam kampus kehidupan. Di balik kebesaran suaminya, sang profesor, beliaulah yang menjadi pendorong, penguat dan pembangun dengan kekuatan doa dan cintanya. Tak hanya itu, ia juga yang menjadikan sayap para kutilang – Taman Kanak-kanak dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), sekolah gratis yang ditunjukkan kepada kaum yang kekurangan – yang tadinya rapuh, menjadi kokoh dan siap menghiasi cakrawala masa depan negeri kita.

Kisah yang dibahasakan dari sudut pandang seorang perempuan sebagai tokoh utama memang jarang ditemukan, mengingat penulis dengan gender yang berbeda. Bukan, bukan bermaksud sexist atau diskriminasi gender dan semacamnya. Bisa dikatakan tidak mudah untuk menemukan tokoh perempuan dengan karakter yang kuat serta menonjol dengan keibuannya, dari seorang penulis laki-laki. Tapi sang penulis mampu melukiskan emosi dan pikiran seorang perempuan dengan cantik dan apa adanya. Bunda Lisa adalah suatu penghargaan bagi semua perempuan di luar sana, khususnya yang berperan sebagai istri dan ibu rumah tangga, yang kerap dipandang sebelah mata.

Sebagai seorang pelajar, buku Bunda Lisa terasa seperti hembusan angin segar, di saat terasa sesaknya tuntutan pendidikan yang kian lama makin memuakkan. Di tengah pendidikan sekarang yang melulu hanya berisi diktean dan persaingan dalam orientasi nilai, Bunda Lisa membuka pemahaman bahwa pendidikan seharusnya disertai dengan keterbukaan, apresiasi, dan komunikasi yang berjalan dua arah. Jika saja semua pendidik mengikuti jejak beliau, saya yakin pendidikan tidak lagi menjadi sesuatu yang dihindari, melainkan akan benar-benar menjadi rumah kedua sehingga menghasilkan bangsa yang cerdas dan maju.

Dengan plot yang maju mundur, fokus dari cerita buku Bunda Lisa sendiri pun dibagi menjadi dua meskipun tetap saling berikatan dan mempengaruhi satu sama lain, yaitu; pendirian TK dan PAUD di bawah nama Kutilang serta proses sang suami menuju perolehan gelar profesor. Kisah dimulai dari kehidupan Bunda Lisa masa kini dan hubungan nya yang mesra dengan suaminya serta pencapaian cita-cita Bunda Lisa, pendirian Sekolah Kutilang. Namun kemudian sang penulis membawa pembaca jauh kepada sebelum kehidupan mereka senyaman masa kini, sebelum sang suami mendapat gelar profesor. Dalam perjalanannya, kita dibawa melalui lika-liku jalan yang tidak selalu mulus, namun tetap manis dengan sisi romantis.

Dengan ketebalan yang mencapai 282 halaman, penuturan yang mengalir menggambarkan hubungan menarik antara Bunda Lisa dengan anak-anak asuh nya di Sekolah Kutilang. Perkembangan karakter dari setiap murid nya dilukiskan dengan detail dan menarik, sehingga ketika terjadi perubahan karakter yang nampak dari hal-hal kecil, kita pun dapat ikut merasa tergugah sehingga kisahnya meninggalkan kesan yang mendalam. Relasi sang bunda dengan anak-anaknya juga begitu dekat meskipun jarak yang memisahkan mereka cukup jauh;  Bekasi dan Selandia Baru. Satu hal yang penting, penulis tidak hanya mengutarakan kebaikan-kebaikan seorang Bunda Lisa, namun juga mengangkat kekurangan sebagai bagian dari manusia sehingga tidak terkesan mendewikan potret sang tokoh.

Sulit untuk menemukan celah kekurangan dalam novel Bunda Lisa. Pada akhirnya, Bunda Lisa mampu membawa inspirasi dengan perannya sebagai ibu, istri, dan terlebih lagi sebagai guru; bukan hanya dalam sekolah yang didirikannya namun juga sebagai guru di bidang kehidupan bagi setiap pembaca. Bunda Lisa juga menginspirasi kaum hawa dan mengingatkan betapa pentingnya peran perempuan dalam berjalannya roda kehidupan dunia. Kaum adam juga diingatkan akan betapa krusialnya keberadaan perempuan, karena merekalah yang menghasilkan sebuah generasi. Bunda Lisa adalah potret seorang Ibu, di balik kepak sayap sang Kutilang, yang melampaui batas kata-kata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s